Jumat, Februari 14, 2014
Belum lama
Hamparan air bah menimpa
Belum ku hitung
Ratusan bebatuan menerpa saudaraku
Kini
Kota Istimewa berselimut debu
beterbangan dan mewarnai angkasa ini
Pedih terasa dimata
pengap ketika ku bernafas
Ku tak menyalahkan
namun inilah kenyataan
Tak perlu juga kusayat hati
Menyesali dan Marah
Karena ini rezeki dari Allah
Ku letakkan pandanganku menuju satu arah
Ku hanya diam
karena hal terbesar telah terjadi
Pikirku hanya berkhayal
Apabila kedua kejadian itu serentak
apa jadinya duniaku?
Tak kala ku melangkang
Mereka menempel dicelanaku
Mengusik seluruh warna yang ada
Bungkam kah duniaku?
atas nikmat yang telah Dia beri
Biarlah ..
semua bukan musibah
Oleh : Muhammad Urfi Amrillah
Senin, Januari 20, 2014
Kondisi dini
Diposting oleh Unknown di 13.57 0 komentar
Kadang sulit membedakan kebenaran
Antara berbagi dan kondisi
Antara benar dan kesalahan
Semestinya manusia berfikir baik
Bukan tuk pragmatis
dan terkontrol emosi
Kini banyak pengaruh aktif dalam hidup
Lemah ketika kita lihat
Perkembangan otak manusia
Sekali lagi sebuah kondisi
Yang slalu membuat manusia kacau
Bahkan rapuh dan frustasi
Terkadang juga ku berfikir
Akankah ada zaman tanpa tangan
bergerak seenaknya bagaikan debu
Kali ini
Saat nanti
Manusia tetap merapatkan fikiran
yang terpengaruh oleh kondisi
Kondisi dimana alam berkembang menuju sang Ilahi
Label: Puisi
Jumat, September 06, 2013
Kacau
Diposting oleh Unknown di 00.22 0 komentar
Karena sebuah pepatah mengatakan bahwa..
Bulan bersatu atas dasar cahaya
Bukan karenanya manusia dapat menyanyi
Bukan karena awan yang berikatan
Namun saat malam tiba
Rakyat bersatu dalam kemauan mimpi
Wajar bila saatnya terik berkibar
Alam berkicau bagai lonceng yang pecah
Barisan kuda putih menghiasi
Bersemayam dibalik semua keindahan wajah manusia
Memuja namun salah
Bermanja tak menjadikan sebuah pilihan
Kapan awan turun
Disanalah bunga mekar
Jika dunia ini tak hidup
Keindahan cipta nuansa surya
Kini pupus karena putaran poros
Berlipat dan bersahaja..
By : Muhammad Urfi Amrillah
Label: Puisi
Minggu, Juli 28, 2013
Loro Wolu
Diposting oleh Unknown di 13.19 0 komentar
Juli bukan bulan yang berarti bagi setiap orang
Bukan juga bulan yang bermakna dalam setiap langkah
Kali ini Juli dihiasi dengan 2 pendamping
Berbalas tanpa ada pamrih
Ketika mengingatkan bahwa tahun ini ganjil
Benar adanya aku bahagia
Benar jika manusia memiliki sebuah peka akan perasa
Saat ini hiasan hidup ketika tak makan seharian
Ketika tertidur teringat akan 2 angka
Bahwa ada yang melengkapi 12 pasang tulang manusia
Permata dunia yang dimiliki sang bunda
Kini kutemukan dalam 9 langkah waktu sejak tahun genap
Aku tahu dia bukan mengharapkan sebuah uraian cantik
Namun ku memahami bahwa dia yang bisa memaknai kiasku
Dalam waktu dan helaian nafas
Semenjak ku menemukan emas dalam lautan
Tak pernah ku menyesali semua jalan yang kulalui
Berbangga saat ku mengetahui berat yang kurasa
Kapan lagi ku tersenyum sebelum bulan genap?
Apa hanya sececer kopi yang terbuang..
Dengan lantang ku jawab tidak
Dengan lantang ku jawab tidak
Bahwa dia benar melakukan penjumlahan
Dari sekian angka
Aku menemukan 2 hal manis dalam kesebelasan
11-11 disandingkan dengan 14-3
Ku slalu merindukan angka cantik itu
Bukan berarti ku seorang ilmuwan matematik
Namun hanya tertarik akan angka yang diberikan Tuhan
Sekali ini sungguh luar biasa
Tak terpungkiri bahwa bulan bermakna ini tlah ku jalani
Sejenak lagi ku berfikir
Bahwa dia bukan sesuatu yang biasa
Anak bunda memahami semua kinerja otakku
Ntah dari mana dia tahu
Namun sungguh istimewa bagiku
Di saat awan hari ini redup
Ku yakin itulah payung Tuhan
yang memahami bahwa perasa butuh hal yang dingin
Slalu ku ingat kejadian hari ini
Berifikir tuk mengartikannya kedalam frame
Tapi nanti, saat ku kalungkan lingkar kuning yang berharga untuknya
Saat ini doa anak bunda meneguhkanku
Lantunan ayatnya secepat kilat
Menusuk..
Memahami, bahwa dia ikhlas menjalaninya
Nanti keyakinan tuk menghadapkan dirinya
Semakin kuat ketika pertemuan dalam rumah suci-Nya
Kutunggu, ketika dia selesai melintasi lirik yang di bawa oleh Muhammad
Sebagai tanda bahwa kitab terakhir dalam pengabdian manusia.
(Novi)
Oleh : Muhammad Urfi Amrillah
Label: Puisi
Malamku
Diposting oleh Unknown di 04.23 0 komentar
Ku berniat memahami setiap putaran jam
Berbekal fikiran dan sedikit memahami
Tak lama ku tersudut oleh suhu
Berhadapan dengan 1 warna dan 4 varian bentuk
Aku tak mengerti apa yang mereka inginkan
Ejekan, melukai semua benakku
Sekilat ku memahami bahwa ini bukan hidup
Namun penangguhan mata atas waktu hidupnya
Apa yang membekaliku tadi, tak berarti bagi sekawanan nafasnya
Tuhan apa ini yang kau uji
Atau hanya ku tak mengerti
Keadaan di bulan ini sangat berat kuhadapi
Bulan suci dan penuh makna
Namun ku sia-siakan
Andai ketika ku faham makna fajar sebelum adzan
Pasti ku menolak semua ajakan bodoh mereka
Pernah ku berfikir
Bahwa bulan berotasi dalam bentuk yang berbeda
Berbujur kekanan seakan tak terpantulkan
Apa biang dari semua pemikiranku
Tuhan... Apa aku bodoh
Sebodoh hewan yang tak mengerti kotoran
Ketika ku menghitung dari perbedaan waktuku dengan mereka
Hanya 3 jarum yang membedakan
Melebihkan porsinya dariku
Saat ku mulai berfikir lagi
Dimana titik temu dalam setiap pengorbanan orang tua ku..
Aku tak bisa menanggung semuanya
Tapi akupun tak dapat mengelak dari semua pikiran mereka
Aku tak durhaka, namun hanya berusaha memahaminya
Tuhan, andai saja ku lahir dan faham maksud dari ayah
Aku mungkin tak begini
Beribu kesalahan tak terbalaskan
hanya 3 bulan ku tinggal dengan babu bangsa
Aku telah berubah hampir seperti rotasi bulan
Harapan setelah liburan
Berganti dengan suasana dahulu
Ketika menginjak bangunan hijau dengan 2 pintu gerbang yang gagah
Manusia tak seperti aku
Namun aku hanya seorang anak yang baru lahir dari kegelapan
Mereka tak berubah
dan ku hanya memandang dari belakang
Seakan tak berguna baginya
Nanti ku kan tahu
Bahwa mereka kan salah menghadapi sang bulan dalam ejekannya
Oleh : Muhammad Urfi Amrillah
Label: Puisi
Jumat, Juli 26, 2013
Amanatmu
Diposting oleh Unknown di 18.42 0 komentar
Lingkaran yang kini ku genggam
Bukan hanya sebuah hiasan yang lucu
Tak sekedar nuansa semata
Namun merupakan tanggung jawab hidup bagiku
Benar memang ketika kau meminta
Tak salah jika kau bermaksud untuk menjaga
Tuhan memang memahamimu
Bukan berarti Dia belum mengetahui
Namun kau tak tahu bagaimana Dia menggambar grafik vector di atas sajadah-Nya
Kau tahu manis??
Kapan aku meluapkan sebuah pemikiran cerdil
Disanalah Tuhan menetukan titik point dalam 1 canvas
Aku pun tak sanggup mendisain hidup sepertimu
Kau percaya akan semua mimpi
Namun aku?
Sama sekali ku tak bisa menjawabnya
Lingkar putih ini akan ku ganti dengan lingkar kuning
Tapi nanti manis. .
Kini banyak yang harus ku hias sebelum mendirikan impian
Impian lucu namun bermakna bagiku
Banyak yang tertawa namun mereka tak tahu
Sulit baginya namun mudah ku pegang
Beribu jengkal jarum yang telah ku lewati sia-sia
Kau hadir, Jengkalku berguna bagi siapapun
Manis.. apa yang kurang dalam bintang di ujung kulon
Dari timur ku hanya memandangnya dengan perhitungan curve
tak seperti ku mamahami ilmu falaq
sama sekali ku tak maksud apa yang kau gambarkan
Kau bilang "jangan hilang ya"
Tapi ku saut dengan mudah "iya deh"
Kau tak tahu maksudku kan
Tertawalah selagi belum ku terapkan undang-undang baru
Kejar curveku
Warnai dengan kode #FF0000
Bentuklah seakan kau seorang desainer
Bagaimana gambar hati yang kau tahu
Ku hanya ingin warna itu menggunakan kode 255,0,0
Simpan itu manis,,,
Ku jaga lingkar putihmu..
Oleh : Muhammad Urfi Amrillah
Oleh : Muhammad Urfi Amrillah
Label: Puisi
Minggu, Juli 07, 2013
Peluang "Jebakan"
Diposting oleh Unknown di 13.16 0 komentar
Seketika itu tak ada yang menduga
Manis setiap perkataanya
Baik semua tingkah lakunya
Belum tahu siapa sebenarnya mereka
Belum mau tuk ku bertanya
Sekedar diam dan mendengarkan
Coba mengartikan setiap katanya
Coba memaknai setiap gerak tangannya
Terbumbuhi sudah beribu kata
Angannya selalu tinggi
Konsepnya sangat cantik
Sekali ini manusia luar biasa
Berhadapan di atas semua kalangan
Berkibar di bawah samudra tulisan
Kapan manusia ini mengambil kesimpulan
Kapan dia berhenti bicara
Tak muak ku mendengarnya
Namun hanya bosan
Beribu bosan
Ketika terucap janji
Tak hanya pasti
Namun hanya peluang
Apa maksudnya?
Aku bahkan tak tahu
Sama sekali tak mengerti
Maksud demi maksud
Hujat demi hujat
Ya itulah kau sahabat
Itulah yang dapat kau ucapkan
Apa itu yang kau katakan dewasa
Apakah manusia hanya bisa menjatuhkan
Besar mana kekuatanmu dengan kekuatan kuda?
Jika kau bahagia atas konsepmu
Matilah kau
Jangan kau publikasikan semua pikirannmu
Itu hanya petuah tak berguna kawan
Itu hanya buah kemaluan yang kau buat.
By : Muhammad Urfi Amrillah
Label: Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)




